Tahun ajaran baru 2021 sudah mulai menampakkan
geliatnya. Jalur masuk perguruan tinggi Negeri, mulai dari jalur SPAN, UMPTKIN
atau bahkan mandiri sudah dan akan segera dimulai. Ribuan CAMABA (Baca: Calon Mahasiswa Baru) di seluruh
Indonesia, berbondong-bondong menangguhkan harapan kepada perguruan tinggi yang
mereka idam idamkan selama ini. – ya pokoknya di bulan bulan ini tu CAMABA lagi
pada siap siap tempur untuk mempertaruhkan harga diri eh enggak juga deng
maksud saya mempertaruhkan cita cita mereka untuk menjadi penerus pemimpin
bangsa nantinya, jadi ya sudah pasti banyak banget yang perlu mereka persiapkan
dari mulai pemberkasan hingga persiapan amunisi otak untuk berjaga jaga menghadapi
jalur tes setelah jalur raport terdepak.
Di bulan bulan penerimaan mahasiswa baru tak hanya
CAMABA yang repot dalam mepersiapkan dirinya agar bisa masuk dalam Perguruan
Tinggi, namun juga beberapa PTN/PTKIN pun sama sedang direpotkan dalam mempersiapkan
penyambutan mahasiswa baru – Ya tentunya termasuk Kampus dimana saya sedang
duduk dan Belajar disana IAIN Pekalongan.
Sama hal nya dengan PTKIN lain, IAIN Pekalongan
merupakan salah satu perguruan tinggi negeri dibawah naungan kementerian agama
yang tentunya sekarang masih melaksanakan tes seleksi mahasiswa baru baik dari
jalur SPAN atau UMPTKIN. Berbagai persiapan promosi pun dilakukan baik tentang
jurusan, akreditasi hingga foto foto gedung dan fasilitas mulai tersebar
diberbagai akun akun resmi IAIN Pekalongan – ngehe tak jarang lho sampek menyuruh perwakilan-perwakilan
mahasiswa untuk ikut posting dan
mempromosikannya. ya wajar si, semakin banyak bauran promosi kan juga
semakin banyak peluang IAIN Pekalongan untuk menarik simpati CAMABA, makin
banyak pula yang kepincut masuk ke IAIN Pekalongan deh ehehe. – Untung kan
iyalah masa enggak.
Ya begitus sekilas pemandang yang kita lihat saben tahun penerimaan mahasiwa baru tak
banyak bedanya – dari yang dulunya
STAIN, lalu mengikuti cabang IAIN Walisongo Semarang, kemudian menjadi STAIN
Pekalongan, IAIN Pekalongan, sampai pada tahun ini berkesempatan untuk menjadi UIN. Yang dalam
hal ini Rektor baru memberi nama UIN Abdurrahman Wahid. Akan tetapi jati diri
kampus ini masih tetap seperti ‘IAIN Pekalongan’, sedangkan UIN Masih dalam
tahap proses pembentukannya.
Oke Bat – Berbicara babagan IAIN Pekalongan, woho pasti sudah tidak asing lagi bukan
dengan jargon Kampus Rahmatalilalamin.
Siapa yang gak inget wahai para mahasiswa IAIN Pekalongan hihi, pukoknya jargon itu udah mendarah daging
pakek BGT bagi Warga IAIN Pekalongan, bagaimana tidak ?, la wong sering kali digaungkan waktu PBAK
atau Taska. Ya dengan dibalut dan
membawa kata khas Islam yang di bawa Rasululullah s.a.w. , mungkin bagi
sebagian warga IAIN Pekalongan menganggap
jargon tersebut unik , menarik penuh makna – namun hal tersebut berkebalikan
dengan anggapan mahasiswa acuh seperti saya, jargon tersebut hanya terdengar
sumbing saja di telinga. Bahkan saking sumbingnya jargon dengan realita
output kebijakan kampus ini acapkali di ocehkan dan dijadikan jambalan bahan
diskusi kajian pinggiran warung kopi
bagi sebagian para aktivis mahasiswa.
Saya sendiri, lambat laun yang tadinya merupakan
bagian dari mahasiswa IAIN Pekalongan yang dulunya acuh ya terima terima aja
gitu gak mikir yang aneh aneh – akhirnya
mulai menampakkan keresahan mengenai korelasi kebijakan dengan jargon kampus
yang diusung. Sejak masuk di IAIN Pekalongan pada tahun 2017, rasanya waktu 1
tahun atau dua semester merupakan waktu saya untuk mengenali tipologi kampus. Budaya
kampus yang sangat berbeda dengan waktu saya duduk di bangku MA. Mulai tahun
berikutnya saya mulai memperhatikan apa yang sebenarnya saya pelajari di kampus
pernah terjadi di bangku MA. Ekspektasiku dulu bahwa apa yang sudah saya ambil
sesuai jurusan maka saya akan lebih fokus dengan mata kuliah yang ada
kaitannya.
Saya coba membaca buku panduan kurikulum IAIN
Pekalongan. Sebenarnya saya agak terkejut ketika beberapa matakuliah yang
tercantum dalam bentuk SKS pernah saya lalui waktu masih putih abu – abu, walau
memang saya tidak sepenuhnya sampai selesai belajar pelajaran dulu di waktu MA.
Saya bertanya – tanya dengan apa tujuan serta esensi mempelajari yang kurang lebih
140 an SKS di fakultas yang aku tempuh. Semuanya terkesan diulang – ulang dan
mahasiswa tak jarang seperti menjadi kelinci percobaan sistem yang kurang jelas
arah dan tujuannya.
Kampus Rahmatalilalamin tentu harus menghadirkan
sendi – sendi nilai yang relevan dengan kampus. Baik dari dosen pengajar,
pelayan fasilitas mahasiswa sampai pimpinan kampus harus memberikan
implementasi yang nyata yang diberikan kepada mahasiswa. Kampus merupakan tempat
bercocok tanam bagi mahasiswa yang ingin menggali ilmu lebih dalam. Kampus
bukan tempat buang – buang waktu yang tidak jelas pula fokus apa yang akan
dihasilkan setalah mahasiswa lulus. Contoh kecil pula ketika saya mengikuti
mata kuliah metode penelitian, apa yang menjadi tugas pada waktu itu adalah
pembuatan mini proposal penelitian. Sebenarnya saya menaruh harapan besar
ketika apa yang saya dan sahabat – sahabat kerjakan mengenai mini proposal
penelitian tersebut, dapat menjadi tindak lanjut dalam membuat proposal
skripsi. Alhasil semua yang saya garap adalah pemenuhan dan latihan belaka. Tentu
ini proses pembelajaran, akan tetapi apa salahnya sekali dayung dua pulau
terlampaui. – ibarat nih mahasiswa yang sedang melakukan studi di IAIN
Pekalongan ya cuman dikasih dan diberi wadah kotor yang masih mempunyai lubang
kecil terus di isi air , ya udah pasti
air yang disalurkan dari dosen ke mahasiswa cuman say hay (baca: hanya lewat)
dan blas tidak tertampung dalam wadah, ya walaupun nih pada akhirnya wadahnya
itu bersih, tapi kan tetap saja tidak ada
sekalipun air yang tertampung. Ya kan.
Jadi, mengimplementasikan Rahmat bagi seluruh alam itu tak semudah membalikkan telapak tangan. – tak semudah bilang simsalabim jadi apa prok prok prok juga kayak pak Tarno. Nah, Dalam hal ini harus ada penekanan dan pengetahuan yang harus dikaji kembali terhadap hal dasar tentang apa makna serta hakikat Rahmatalilalamin – saya kira di kampus IAIN Pekalongan masih minim sekali dan belum sepenuhnya para pegawai kampus memahami terkait hal itu, terkecuali para pegawai atau dosen serta pimpinan yang mempunyai riwayat lulusan pesantren. Padahal nih, Kapasitas ilmu dan kualitas dosen atau pegawai dalam memahami jargon kampus saya kira, sangatlah perlu. Karena dengan memahami serta menjiwai akan melahirkan kebijakan yang manusiawi, tidak ada ketimpangan antar mahasiswa dan dosen. Ayolah Pak Buk Jangan hanya menjadi sebuah formalitas saja, karena sejatinya apa yang telah menjadi ciri khas kampus perlu diimplementasikan. – jangan main main juga, diluaran sana banyak para orang tua mahasiswa yang udah punya harap tinggi sama kampus, udah menanti nanti anaknya jadi orang hebat pasca kuliah ngehe.
Belum lagi kalau Berbicara pasca kuliah, Pak Buk perlu
anda ketahui bahwa dunia realita tidak lah seperti apa yang diajarkan di kelas –
wehe masih mending sih kalau pertemuannya tatap muka gak mudeng bisa tanya
sampek jam mata kuliah berakhir mau berdebat kayak apapun masih bisa di ladeni,
la kalau online ? gimana rasanya ? yang gak
mudeng semakin bingung, yang bingung semakin pusing, yang pusing semakin menjadi
bodo amat hihi – alhasil akan lebih banyak miss komunikasi dalam pemahaman
jalannya mata kuliah. Kalau udah seperti itu, lantas akan jadi seperti apa
jebolan mahasiswa IAIN Pekalongan?
Layaknya seperti Jargon kampus kita – hal ini juga tak
kalah penting untuk direnungkan dan dilakukan reformasi yang benar benar
terfokus pada budaya atau jebolan mahasiswa IAIN Pekalongan nantinya. Karena
berbicara lingkungan sosial nyata perlu bagi jebolan IAIN Pekalongan mempunyai alat
atau metode yang tepat. Misal saya contohkan kembali pada fakultas dan jurusan
saya, ketika beberapa mahasiswa diampu oleh beberapa dosen tentang mata kuliah
bisnis akan tetapi dosen tersebut realitanya masih minim pengalaman dalam dunia
bisnis. Sedangkan lapangan perlu metode yang nyata berdasarkan pengalaman sang
mentor atau dalam hal ini dosen. Teoritik tentang bisnis perlu untuk landasan berfikir,
akan tetapi juga lebih penting apabila dosen pengampu mempunyai pengalaman atau
kapasitas yang tepat untuk memberikan edukasi lapangan terkait bisnis. Dalam
hal ini juga, harus tetap diperhatikan untuk fakultas – fakultas lain.
Semoga di perayaan hari pendidikan nasional ini bisa
menjadi bahan refleksi bagi civitas akademika kampus untuk melakukan reformasi
yang nyata. Kami mahasiswa tetap mengharapkan yang terbaik untuk kampus agar
sama – sama memberikan sumbangsih kepada bangsa dengan SDM yang mumpuni.
Seperti yang telah dikatakan pada pelantikan pimpinan fakultas serta jurusan periode 2021 – 2025
" Bekerja sepenuh hati, bukan sepenuh gaji"
Kalianlah para pendidik bukan pengajar. Sistem
kurikulum perlu dikaji ulang dan melibatkan perwakilan mahasiswa untuk ikut
memberikan sedikit sumbangsih pemikiran. Jangan jadikan kampus hanya sebagai
wadah jual beli ilmu, akan tetapi kita tidak pernah sampai pada hakikat ilmu
itu sendiri.
Penulis : Rifki
Editor : Lita

1 Komentar
MasyaAllah..
BalasHapus