Tahun 2019 sampai dengan 2021 mungkin menjadi tahun yang bisa dibilang lucu bagi umat manusia. Kenapa lucu, menurut saya kehadiran virus Corona yang terjadi pada akhir tahun 2019 sampai saat ini menjadi alat sendiri bagi orang – orang yang berkepentingan dalam tubuh pemerintahan untuk melancarkan aksinya. Walau agaknya virus ini unsur alamiah atau bahkan bisa jadi sudah direncanakan sebelumnya, akan tetapi bagi pejabat pemerintah ini adalah waktu yang tepat untuk merancang Neo Orde Baru.
Oh ya, sebelumnya selamat bertambah umur buat virus Corona yang ke satu tahun lebih. Mohon maaf bulan Januari kemarin belum bisa ngucapin, karena melihat ulah para wakil oligarki di Negeri ini yang tersebar dalam berita, sehingga saya lupa dengan ulang tahun ente. Awal bulan saya lebih fokus ke berita dampak Corona dalam aspek ekonomi sosial politik dan agama bukan kesehatan. Kurang tertarik melihat virus Corona dari aspek kesehatan, sebab angka – angka statistik positif, sembuh atau mati karena ente menimbulkan skeptis sendiri setelah saya melihat realita yang ada. Kami harap buat virus Corona 19, jangan pernah pergi dari negeri ini, biar ente tetap jadi alat para pejabat untuk memeras kekayaan bangsa lewat kaki – kaki oligarki. Biar mereka binasa dengan kerakusan mereka sendiri. Dan kita rakyat yang terzalimi, bisa melewati hisab cukup dengan hitungan jari.
Awal muncul virus Corona, saya sendiri merupakan orang yang sudah skeptis dengan kemunculannya. Secara keilmuan virus Corona memang benar adanya, akan tetapi tidak membahayakan seperti yang diberitakan. Dengan keraguan saya itulah, maka virus ini sebenarnya hanya dijadikan alat untuk melancarkan misi tertentu. Misi apa yang sangat jelas bagi masyarakat yang hatinya tidak buta, ialah misi penyediaan karpet merah buat oligarki yang berdampak pada dehumanisasi.
Berbagai peristiwa sarat kepentingan sudah gamblang terjadi pada masa corona di negeri ini. Lahirnya UU Omnibuslaw dan sekarang disahkannya RUU KPK yang sudah sangat jelas melumpuhkan KPK itu sendiri. Saudara bisa baca berbagai tulisan tentang kedua kebijakan tersebut. Dari dua kebijakan tersebut merupakan ujung tombak Neo Liberalisme dan Neo Rezim Orde Baru.
Dari adanya UU Omnibuslaw yang banyak melemahkan hak – hak masyarakat itu sendiri, menjadi jalan mudah bagi pasar bebas untuk masuk serta siap menjamur di Negeri ini. Dengan dalih penyerapan tenaga kerja, namun sayangnya rakyat yang menjadi budak di negerinya sendiri. Dampak tersebut jika kita refleksikan seperti yang terjadi pada zaman Orde baru, dimana Pak Harto membuka kran investasi dengan dalih pembangunan. Semua telah dengan jelas bahwa Neo Orde Baru kembali tumbuh dengan wajah baru. Bisa saudara lihat, bahwa adanya lembaga KPK adalah anak kandung dari reformasi yang melawan rezim orde baru. Maka pelemahan KPK saat ini, merupakan bukti bahwa rezim telah tumbuh kembali
Selain aspek sosial politik serta ekonomi yang telah terkena dampak dari adanya covid 19, agama merupakan salah satu bagian yang tidak luput dari cerita lelucon virus ini. Adapun agama dalam perspektif saya merupakan salah satu alat peredam amarah masyarakat yang sudah mulai tidak percaya dengan adanya virus ini. Sebenarnya kemunculan virus ini telah dipertegas oleh ulama panutan kita asal Pekalongan, yaitu Habib Luthfi. Dalam acara pengajian Kliwonan beliau berkata, “jangan pernah takut dengan Corona, takutlah kepada Allah, yang jualan tetap jualan, yang sekolah tetap sekolah”, mungkin kurang lebihnya demikian yang dikatakan beliau. Apa yang disampaikan oleh Habib Lutfi pada saat itu menjadi atmosfer tersendiri bagi umat Islam khususnya di Pekalongan dan di sekitarnya. Namun setelah acara tersebut, beliau habib Luthfi memberikan video agar tetap mematuhi protokol kesehatan yang di atur oleh pemerintah.
Dari peristiwa tersebut bisa kita lihat, pemerintah begitu ketakutan bagaimana seruan dan nasehat Abah akan merubah pola pikir masyarakat yang pada saat itu masih dihantui oleh kemunculan covid. Kemunculan covid yang belum sempurna, bisa jadi tumbang jika nasehat dari Abah tidak mendapat respon dari pemerintah. Kelihatannya seakan – akan pemerintah sangat peduli dengan keadaan masyarakat dalam hal kesehatan. Sehingga melarang hal – hal yang berbau kerumunan.
Namun sayangnya Agama tetaplah tidak berdaya pada saat ini, pasalnya agama selalu menjadi korban kebijakan – kebijakan buta yang sangat berbau akan kepentingan. Lihat saja pada tahun ini saudara, kita baca realita sosial khususnya di daerah Pekalongan. Saya akan ceritakan bagaimana bulan ramadhan yang sudah kita lalui bersama Corona selama dua kali, seharusnya pemerintah melakukan pencegahan lebih intens pada bulan ramadhan. Sebab pada bulan ini, kecenderungan keramaian akan berpotensi lebih besar. Namun apa yang terjadi, ramadhan pada tahun ini seolah – olah sudah tidak ada lagi Corona. Pasar tetap dibuka, mall, pusat belanja, tempat keramaian dan tempat nongkrong lainnya tetap saja buka. Yang terjadi apakah mematuhi protokol kesehatan atau tidak, tentu jawabannya tidak. Cek suhu hanya jadi formalitas tanpa diuji dengan pantas, jaga jarak hanya sebuah slogan MMT saja serta pemakaian masker yang cukup membuat sesak nafas ditambah lagi saling berhimpitan di mall serta pusat perbelanjaan.
Peristiwa tersebut membuat saya optimis, bahwa masyarakat telah sepakat bahwa virus Corona tidak membahayakan. Maka saya akan lebih optimis jika pemerintah akan menyediakan jalan perayaan di hari kemenangan dengan lapang. Namun apa yang terjadi, pada tanggal 11 Mei 2021, Pemkot Pekalongan mengeluarkan surat edaran tentang perayaan hari lebaran dan sholat Ied cukup di rumah saja. Dalam hati serta pikiran saya, 29 hari kemarin kalian wahai para pejabat dimana to?, apa karena royalti pajak yang besar dari pusat belanja atau Mall sehingga tetap diperbolehkan beroperasi walau tidak mematuhi standarisasi prokes?. Sehingga buat apa mempersilahkan sholat Ied di masjid, karena nyatanya tidak ada feedback yang menguntungkan bagi pemerintah.
Realitanya sesuatu yang tidak bersinggungan dengan kepentingan mereka maka tidak akan digubris, agama bagi mereka Cuma pajangan belaka. Ya kalau soal pemilu harus tetap jalan walah dipaksa dengan sosialisasi besar – besaran. Karena kalau tidak ada pemilu regenerasi untuk melanjutkan kepentingan oligarki akan terhenti, maka hal ini harus tetap dilaksanakan. Atau bahkan pelarangan mudik tahun ini cukup bagi mereka yang tidak punya uang serta jabatan, masyarakat yang sudah mempunyai jalur privillage tentu ini bukan suatu halangan.
Maka kembali saya katakan kehadiran virus Corona bagi saya sangat lucu, karena dampak – dampak yang ditimbulkan bikin perut ingin mual. Terlepas dari kepatuhan saya terhadap negara, saya hanya ingin menyampaikan bahwa masyarakat tidak butuh aturan yang berbelit – belit toh nyatanya kalian yang katanya wakil kami telah gagal menjadi representasi yang baik bagi rakyat Indonesia.
Penulis Gila

0 Komentar