Gagal Faham dengan Kampus


    Bagi setiap orang mempunyai cara pandang tersendiri terhadap sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Cara pandang yang berbeda – beda lahir dari sebuah proses dialektis yang terjadi pada pendidikan itu sendiri. Proses dialektis tersebut biasanya dipengaruhi oleh adanya solusi sistem yang efektif serta efisien yang menggantikan sistem yang monoton. Selain itu, proses dialektis dalam sistem pendidikan juga dipengaruhi oleh sebagian zaman.

    Sumbangsih pemikiran berupa kritikan serta solusi yang ditulis oleh para cendikiawan, dosen atau profesor dalam mengangkat isu pendidikan tidak terhitung jumlahnya. Banyaknya tulisan – tulisan tersebut akan tetapi tidak menggoyahkan sistem pendidikan yang ada. Dari mulai TK sampai Perguruan tinggi agaknya masih sama – sama saja, dan bukan hasil yang maksimal, malahan banyak melahirkan SDM yang mempunyai daya fikir yang terjajah dan mempunyai keahlian yang tanggung. 

    SDM Indonesia telah di desain untuk memiliki daya fikir yang terjajah karena murid atau siswa yang belajar di sekolah seakan harus menuruti sistem yang dinginkan pemerintah bukan potensi yang seharusnya digali dari anak tersebut. Alhasil anak – anak Indonesia terbunuh secara mental dan hanya ada ketakutan untuk mencoba hal – hal baru. Karena yang terbesit dalam fikiran anak – anak, jika keluar dari sistem yang sah, maka anak dianggap salah.

    Seperti yang dijelaskan oleh tokoh pendidikan kritis asal Brazil, yaitu Paulo Phreira, bahwa seekor ikan tidak akan bisa menyelesaikan tugas memanjat pohon, sementara tugas memanjat pohon hanya bisa dilakukan oleh monyet. Dari gambaran tersebut bisa kita simpulkan, bahwa anak – anak yang mempunyai keahlian serta potensi berbeda – beda tidak bisa disamaratakan untuk mempunyai keahlian yang tunggal.

    Dampak dari adanya tuntutan sistem pendidikan yang mengahruskan melahirkan output yang sama yaitu anak – anak Indonesia pada akhirnya hanya memiliki kemampuan yang tanggung atau tidak selesai pada satu bidang. Mengapa demikian, sebab si Budi yang mempunyai potensi dalam bidang Sains akan tetapi dia juga harus menerima pelajaran sejarah, teknologi dan informasi serta bahasa, akhirnya si Budi tidak fokus terhadap potensi yang seharusnya dikembangkan.

    Siklus pendidikan Indonesia selalu menerapkan sistem yang kurang jelas output dan tujuannya. Yang ada sistem pendidikan selalu menjadi wadah uji coba akan tetapi tidak menemukan solusi baiknya, dan anak – anak Indonesia menjadi kelinci percobaan. Mulai dari TK sampai Perguruan tinggi, anak – anak Indonesia selalu diputar – putar dengan pelajaran yang tidak mencapai titik klimaks. 

    Ketika TK SD Atau SMP masih berputar – putar dalam pelajaran yang terus diulang bisa di toleransi. Akan tetapi hal ini masih terjadi pada tingkat SLTA bahkan perguruan tinggi. Dalam perguruan tinggi yang jelas sebenarnya fokus pada satu bidang atau jurusan yang akan digelutinya, akan tetapi tetap saja mengulang pelajaran yang sudah di pelajari waktu SMA/MA/SMK. Relevansi pada tiap mata kuliah dalam perguruan tinggi dinilai sangat tanggung.

    Kita ambil contoh dalam prodi jurusan Ekonomi Syariah di IAIN Pekalongan. Siswa yang baru lulus dari SLTA tentu mengharapkan jurusan tersebut akan menyajikan ilmu yang baru dan fokus pada bidang tersebut. Akan tetapi realita yang terjadi, mahasiswa tetap dicekoki dengan mata kuliah yang seharusnya sudah didapat pada waktu SMP atau SMA. Baiklah berbicara ilmu tidak ada yang buruk. Akan tetapi ilmu sendiri jika tidak mempunyai perkembangannya, malah menjadi sebuah bencana bagi pembangunan SDM yang ada.

    Waktu normal belajar dalam perguruan tinggi selama empat tahun atau 8 semester, disibukkan kembali dengan lelucon pelajaran atau mata kuliah yang diulang – ulang tanpa ada titik capainya. Saudara bisa coba survei ke beberapa mahasiswa, apakah faham betul dengan jurusan yang mereka ambil. Apa saja teori – teori yang didapatkan ketika bergelut dalam jurusan tersebut. 9 dari 10 mahasiswa menjawab, entah apa yang mereka dapatkan hanya formalitas mata kuliah yang dijalankan. 

    Beberapa point’ mata kuliah harus kembali dikaji agar menemukan titik relevan yang sesuai jurusan dan tidak menghabiskan waktu Cuma – Cuma. Biaya yang dikeluarkan mahasiswa bukanlah jumlah yang sedikit, maka kampus juga harus mempunyai tawaran yang menarik serta jelas bagi setiap mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Besar harapan juga terkait pengkajian ulang kurikulum di IAIN Pekalongan agar terbukti kongkrit menghasilkan SDM yang berintelektual berbasiskan keislaman.



Penulis Gila

0 Komentar

FAQ

Bat PMII itu apa sih ?

PMII merupakan organisasi gerakan dan kaderisasi yang berlandaskan Islam Ahlussunah Wal Jamaah. Berdiri sejak tanggal 17 April 1960 di Surabaya dan hingga lebih dari setengah abad kini PMII terus eksis untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Mengapa harus menjadi anggota PMII bat ?

Karena di PMII kalian akan memperoleh doktrin ke-Islaman sekaligus doktrin keIndonesiaan. Hal ini akan membuat kalian menjadi sosok yang ideal; menjadi pribadi yang Religius sekaligus pribadi yang Nasionalis. Anggota PMII berada pada posisi yang Moderat. Tidak ekstrim kanan juga tidak ekstrim kiri, tapi moderat. Pribadi moderat adalah ideal untuk realitas sosial yang plural.

Kalau gabung di PMII gimana caranya bat ?

Semua mahasiswa/i yang beragama Islam bisa menjadi anggota PMII dengan cara mengikuti MAPABA. MAPABA Merupakan akronim dari Masa Penerimaan Anggota Baru, kaderisasi formal pertama di PMII