A. Latar
Belakang
Wabah Covid-19 yang tidak terasa
sudah 1,5 tahun melanda dunia. Indonesia termasuk negara yang mengalami dampak
dari wabah ini. Tidak hanya dari segi kesehatan, bahkan dari segi pendidikan,
segi ekonomi juga terkena imbasnya. Terlebih lagi dari segi ekonomi yang sangat
drastis mengalami penurunan. Kegiatan perekonomian terhambat karena adanya
dampak covid-19 ini, banyak para pekerja yang di PHK, produsen yang berkurang
dalam kegiatan produksi. Sehingga untuk pendapatan pun menurun.
Pasar tidak hanya membutuhkan modal
finansial dan modal manusia dalam mempertahankan keberadaannya, tetapi juga
modal sosial. Kelangsungan hidup usaha di sebuah pasar tradisional tidak luput
dari adanya modal sosial yang tumbuh di dalam pasar tersebut. Jenis modal
sosial tampak pada upaya yang dilakukan oleh pedagang yang membuat jaringan
dengan orang di luar komunitas mereka dalam kaitannya dengan aktivitas
perdagangan mereka. Misalnya, pedagang menjalin hubungan dengan distributor
atau tempat “kulakan” bahan baku yang dianggap memiliki harga lebih murah.
Wabah pandemic virus corona
(COVID-19) di Jawa Tengah khususnya di Pasar Adiwinangun, Kecamatan Nagdirejo,
Kabupaten Temanggung telah berdampak pada produksi tempe dan tahu. Di pasar ini
tidak hanya satu atau dua penjual tahu tempe, banyak penjual tahu tempe di
pasar ini. Bahkan banyak juga yang memproduksi sendiri tahu tempe tersebut,
dalam kata lain mereka mempunyai pabrik tahu sendiri dan memiliki karyawan yang
diperkerjakan. Sehingga dalam produksi tidak hanya mempertimbangkan bahan baku
saja, tetapi juga gaji karyawan. Wabah ini telah membuat harga bahan baku
pembuatan tempe dan tahu melonjak. Kebutuhan memang cukup, namun harga bahan
baku yang melonjak naik membuat para produsen tahu dan tempe mengurangi jumlah
produksi. Sehingga, penjualan sangat menurun drastis. Apalagi di bulan suci
Ramadhan ini produksi tahu tempe juga sangat menurun. Hal ini disebabkan karena
konsumen ingin menu yang enak-anak ketika sahur dan berbuka.
B. Analisis
Analisis pasar dilakukan pada hari Kamis, 15 April 2021 pada pukul 10.00 WIB di pasar Adiwinangun, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah dengan narasumber yaitu seorang produsen sekaligus penjual tahu dan tempe. Setelah melakukan wawancara, maka memperoleh data seperti berikut.
· Nama penjual : Ristiasih
· Jumlah anak : 3 (sudah berkeluarga semua)
· Produksi : memproduksi sendiri (memiliki pabrik tahu sendiri)
· Status kios : menyewa punya pemerintah
· Biaya sewa : 5 juta/tahun (Rp. 2.000/ hari untuk kebersihan)
· Jumlah produksi : 500 kg/hari
· Jumlah karyawan : 4 pegawai
· Waktu kegiatan jual beli : 06.30 – 15.30 WIB
· Penurunan setelah terdampak covid : 50% (1 kwintal per hari, menurun menjadi
½ kwintal perhari)
· Alasan masih berjualan : mempertahankan segmentasi pasar dan juga karyawan
· Keadaan pasar : masih kurang tertata, kebersihan juga masih kurang,
tempat sampah masih minim, banyak penjual yang berjualan
di jalan (tidak di dalam pasar)
C. Kesimpulan
Kegiatan
analisis pasar sangat diperlukan, agar kita sadar apa yang terjadi di
lingkungan sekitar kita. Kegiatan ini sangat membantu kita, sebagai mahasiswa
pergerakan hal apa yang harus dilakukan.
D. Saran
Sebelum
melakukan analisis harus menentukan sasaran untuk dianalisis. Mempersiapkan
beberapa pertanyaan. Melakukan analisis dengan sopan santun. Setelah melakukan
analisis, kita menjadi tahu bahwa covid 19 sangat mempengaruhi kegiatan
perekonomian. Yang dialami oleh ibu Ristiasih adalah salah satu diantara banyak
penjual atau para produsen tahu tempe yang mengalami penurunan produksi dan
penjualan selama pandemic covid ini. Dari pemerintah sebaiknya memberi bantuan
modal dengan melakukan survey pasar terlebih dahulu, sehingga memperoleh data
yang valid.
E. Dokumentasi
Zulfa Umaroh
Rayon Radan Santri
Komisariat Tidar



0 Komentar