Kehidupan bernegara memberikan warna tersendiri, sebab tiap negara atau wilayah mempunyai aneka ragam suku, budaya, warna kulit dan agama. Perbedaan itulah yang tetap menjadi fitrah manusia dan mustahil bisa disatukan dengan paksaan sehingga kebanyakan akan timbul rasisme atau bahkan diskriminasi antar golongan. Seperti yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13 bahwasanya Allah telah menciptakan manusia dalam bingkai perbedaan dan mempunyai tujuan agar saling mengenal. Maka sangat mustahil, apabila ada keinginan atau hasrat dari satu golongan. Persatuan dalam sebuah perbedaan akan tercapai apabila seorang pemersatu dapat jeli melihat benang merah yang dapat mempersatukan perbedaan sehinga tidak menimbulkan perpecahan. Karena seringkali pula manusia merasa paling benar dengan argumennya. Hal tersebut juga bisa terjadi dari golongan yang saling merasa baik dan mendeskriminasikan golongan lain.
Dilihat dari sudut pandang sejarah perbedaan telah melahirkan perdebatan antara malaikat dengan Tuhannya ketika hendak menciptakan manusia. Akan tetapi dengan sifat taat malaikat terhadap Tuhannya, maka dengan ridho malaikat mendukung rencana Tuhan. Sedang perbedaan pendapat yang melahirkan permusuhan yaitu antara Tuhan dengan Iblis. Iblis yang merasa mulia karena tercipta dari api, sedang manusia dari tanah enggan memberikan penghormatan terhadap Adam. Mulai saat itulah iblis menjadi makhluk yang terkutuk dan akan selalu menjadi pembangkang sampai hari akhir. Perbedaan pendapat juga terjadi pada nabi dan Rosul Allah seperti Nabi Musa dan Bani Israil yang setiap saat selalu mengelak pada ajaran Nabi Musa dan menganggap Nabi Musa penyihir. Sampai sekarang Bani Israil tetap menjadi pembangkang ajaran Islam. Begitu juga yang terjadi pada Baginda Agung Nabi Muhammad s.a.w yang dengan sabarnya menghadapi kerasnya kaum Quraisy Makkah dalam misi dakwah Islam yang Rahmatallil Alamin.
Melihat dari perjalanan sejarah,
maka kita bisa pastikan dan buktikan bahwa yang terfirmankan dalam QS. Al
Hujurat 13 sangatlah benar. Bahkan sampai sekarang, perbedaan tetap akan ada
sampai hari kiamat kelak. Seperti yang bisa kita lihat di negeri kita yaitu
Indonesia yang mempunya kurang lebih 270 juta jiwa penduduk dengan 34 provinsi
serta berbagai macam suku dan budaya, tentu melahirkan banyak perbedaan yang
tidak bisa kita hilangkan. Sebab perbedaan yang ada di Indonesia merupakan
bagian dari firman Tuhan. Maka bukan hal yang asing ketika di Indonesia terjadi
banyak percekcokan dan bahkan bentrok antar golongan akibat perbedaan haluan
atau pemikiran. Sayangnya kedewasaan pola fikir masyarakat Indonesia yang belum
terasah dengan baik, sehingga masih mudah di adu domba bagi kepentingan
segelintir golongan seperti atas nama agama.
Agama merupakan objek yang sangat
sensitif untuk dijadikan bahan diskusi dalam berbangsa dan bernegara, sehingga
acapkali Agama sering dijadikan bahan manajemen konflik dalam dunia perpolitikan bangsa. Persoalan
perbedaan agama nampaknya menjadi suatu hal yang juga membahayakan bagi
persatuan bangsa, jika masyarakatnya belum bisa bijak dalam menanggapi suatu
masalah yang ada kaitannya dengan agama. Bangsa Indonesia yang mempunyai
beberapa macam agama seperti Islam, Kristen, Konghucu, Budha, Hindu, Protestan
menjadi sebuah anugerah jika masing – masing pemuka agama bijak dalam memahami
ajarannya namun bisa pula menjadi masalah jika pengikutnya memiliki fanatsime
yang tinggi. Namun yang menjadi titik celah perpecahan yaitu diantara para
pengikutnya yang memahami agama secara tekstual akhirnya melahirkan hasrat
menyalahkan yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Karena bagi orang yang
telah fanatik pada suatu agama atau golongan tertentu, maka tidak ada celah
fikiran jernih untuk menyadarkannya.
Dengan mayoritas penduduk muslim
di Indonesia serta menempati peringkat pertama populasi muslim terbesar di
dunia, membuat negara Indonesia menjadi potensi kejayaan umat Islam di dunia.
Dengan berbagai ragam golongan dalam tubuh Islam juga yang menjadi warna
tersendiri, seperti golongan Islam Sunni, modernis, tradisionalis. Adanya
berbagai golongan dalam Islam Indonesia juga merupakan pengaruh dari penyebar
agama Islam di Indonesia yaitu ulama dari Persia, China, serta Saudi Arabia.
Akan tetapi walau banyak perbedaan dalam tubuh Islam, para ulama terdahulu
seperti para wali songo tidak mempermasalahkan perbedaan firqoh tersebut.
Melihat pada zaman sekarang, perbedaan golongan dalam Islam bukan lagi menjadi
sebuah warna yang patut untuk dipertahankan, melainkan perbedaan telah membuat
antar golongan saling sikut dalam mempertahankan keyakinan ajarannya.
Penyebab adanya perselisihan
pendapat yang berujung pada rusaknya persatuan yaitu salah satunya karena
banyak seseorang yang telah mengaku belajar Al Qur’an, Hadist dan kitab – kitab
rujukan Islam lainnya, akan tetapi tidak dengan guru yang sanadnya tersambung
ke Rasulullah s.a.w. sehingga orang – orang tersebut memberikan pemahaman Islam
sudah keluar dari konteks Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad s.a.w. lahirlah
golongan yang menamakan dirinya dengan Ahlussunnah Wal Jamaah akan tetapi dalam
praktik Amaliah ibadah baik dengan manusia maupun Tuhannya tidaklah selaras
dengan apa makna dari ajaran Ahlussunnah tersebut. Dengan atas nama Islam juga,
golongan mereka memberantas segala bentuk kemungkaran dan bahkan melahirkan
karakter yang intoleran.
Dari sedikit penjelasan lahirnya
golongan yang mengatasnamakan Islam dengan jalur pemikiran yang radikal, maka
seharusnya kita tahu bahwa hakikat Islam bukan menghapuskan perbedaan baik dari
Agama maupun pemikiran. Sebab Islam yang diajarkan oleh nabi sangat menghargai
perbedaan dan menjunjung tinggi nilai toleransi. Apa yang telah masyarakat
tanamkan pada umumnya bahwa pelaku intoleransi seperti kasus pengeboman dalam
negeri ini, tidak ada sangkut pautnya dengan agama Islam. Kajian tentang
perbedaan agama atau pemahaman dalam Islam sudahlah selesai pasca nabi Muhammad
membawa Agama Islam di negeri Makkah dan Madinah. Maka yang terjadi sekarang
yaitu kejadian memerangi kaum kafir dengan cara pengeboman suatu tempat ibadah
adalah bukan bagian dari agama Islam, akan tetapi mengatasnamakan islam untuk
kepentingan politik belaka. Bisa kita lihat, umat Islam merupakan agama dengan
jumlah mayoritas penduduk di dunia, maka tidak mungkin musuh Islam yang kini
menyerang bukan dengan angkat senjata akan tetap meruntuhkan Islam dengan cara
yang lebih halus.
Penulis : Rifki
Editor : Lita

0 Komentar