Melirik segala
bentuk problematika bangsa ini memanglah menarik. Dari sudut peristiwa mana
saja bangsa ini memang jadi banyak incaran negara lain atau bahkan masyarakat
negeri ini yang sering asyik memainkan peran dalam percaturan kekuasaan. Sehingga,
tak jarang lingkar kekuasaan dari zaman orde baru sampai reformasi sekarang ini
hanya berputar pada garis tirani yang telah dibuat oleh tangan – tangan manusia
serakah. Tak jarang juga masyarakat kecil atau pinggiran yang menjadi kambing hitam,
sangking
hitamnya sampai benar – benar tak terlihat oleh mata hati mereka mana
masyarakat yang perlu dibantu oleh negara dan masyarakat yang sebenarnya sudah
cukup menghidupi sanak saudara malah mendapat hak istimewa.
Masalah
merupakan fitrah dalam kehidupan yang tetap akan ada, sebab manusia sebelum
tercipta pun sudah membawa masalah ketika malaikat mempertanyakan dan meragukan
penciptaan manusia itu sendiri. Sampai penunggu surga yang sudah puluhan ribu
tahun, yaitu iblis pun ikut terusir akibat enggan sujud hormat terhadap
manusia. Namun, adanya masalah tentu selalu dibarengi dengan sebuah solusi.
Sudah jadi hukum alam pula masalah timbul karena adanya sebab akibat. Seperti yang terjadi di negeri ini tiap
tahunnya terdapat masalah baik kaitannya dengan isu Internasional ataupun
Nasional bahkan Lokal. Masalahnya tiap kali para pemimpin negeri ini menjabat maka
program yang mereka usung belumlah usai sampai pergantian pemimpin lagi dan
mengusung program terbarukan. Tentu melihat peristiwa ini masyarakatlah yang
banyak menjadi bahan kelinci percobaan yang tidak jelas arah dan tujuannya. – Kritikan ini bukan ingin menjadikan periode
kepemimpinan di negeri ini jadi ditambah lagi lho ya bat, apa lagi sampek nyuruh
kalian buat desak mereka para pesohor eh pimpinan negeri ini buat melanggar
konstitusi, ingat sudah jelas tertera hanya boleh dua tahun gak boleh maksa
titik.
Toh,
panjangnya periode kepemimpinan bukan jaminan negeri ini bisa fokus terhadap
tujuan yang hendak dicapai. Akan tetapi sifat berfikir maju para pemimpin yang
bisa menjamin bangsa Indonesia dapat menjadi negara people power.
Coba
deh sekarang kita lihat realita di Negeri ini –
Sepanjang Jalan kenangan Periodesasi Bapak Presiden kita yang terhormat dan tercinta
yaitu Ir. Joko Widodo yang sudah 7 tahun lamanya ini mempimpin Indonesia. Wehe - kira kira prokernya gimana ya ?
berjalan kah? Tercapaikah ?
Mari kita
telisik dimulai dari periode pertama. Diawal kepemerintahannya, Bapak Jokowi
lebih memfokuskan pada pembangunan infrastruktur dari pembangunan tol darat
sampai tol laut. Di periode kedua Beliau lebih memfokuskan kualitas SDM yang kemudian
terkenal dengan jargon “SDM Unggul,
Indonesia Maju”. – Nah ini yang akan kita bahas Garis besarnya tercetak
tebal bertanda kutip SDM, pangkal dari segala persoalan. Lho mengapa demikian?
Ya
mbok dipikir aja – sebaik apapun sistem atau aturan yang
telah dibentuk oleh para pemangku kekuasaan di negeri ini, jika SDMnya masih
buruk maka aturan hanya sebagai pajangan dinding belaka. Bahkan, banyak kasus
yang terjadi di dalam birokrasi pemerintahan seperti kasus korupsi, suap sampai
jual beli jabatan ya itu tidak lain karena
kualitas SDM yang kurang baik.
Terlebih Sampai
detik ini pula tidak ada proses yang kongkrit dalam membentuk dan menghasilkan
SDM yang unggul. Dari segi mana para bejabat perancang visi unggul yang akan
dilaksanakan. Alih – alih merencanakan SDM Unggul, pemerintah malah membuka investasi
bebas yang tidak berbelit – belit dalam proses persyaratannya. Dengan Lahirnya
omnibuslaw, sekarang pihak asing bebas berbondong bondong melakukan investasi
pembangunan di negara Indonesia. – ayo...
ayo... investasi ke Indonesia mumpung gampang dan gak ribet ehe...
Etss
tapi
di balik itu semua – Omnibuslaw bisa dikatakan sangat bertolak belakang
terhadap visi SDM Unggul Indonesia Maju. Kok bisa?
Jadi konsepnya
seperti ini, Ketika pemerintah terfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat
dengan membuka banyak lapangan pekerjaan melalui UU omnibuslaw, maka SDM
indonesia akan semakin tersisih, tersingkirkan kebedaradannnya dan menjadi
budak sendiri di dalam negeri. – Piye to
iki ? Dasar permasalahan SDM Unggul saja pemerintah tidak tahu, lah bagaimana
untuk mengusung Indonesia maju ?
Pelu sama sama
kita sadari dan ketahui, bahwasanya permasalahan SDM di Indonesia bukan hanya
bisa dilihat dari satu sisi yaitu ekonomi, akan tetapi dari segi pendidikan dan
spiritual perlu menjadi basis dalam
membentuk SDM Unggul. Dalam hal pendidikan kita masih berpindah – pindah
kurikulum, ketika Mentri di ganti maka program yang diusung oleh mentri
terdahulu tergantikan. Masyarakat Indonesia selamanya akan menjadi kelinci
percobaan. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, bagaimana dari Mentri
pendidikan khususnya dalam menselaraskan visi SDM Unggul. Dengan tipologi
masyarakat Indonesia yang belum fasih dalam pemakaian pembelajaran digital
membuat siswa atau mahasiswa menjadi malas di dalam rumah tanpa ada gairah
dalam menuntut ilmu. Tentu ini bukan soal keadaan, bangsa yang siap adalah
bangsa yang bukan menyalahkan keadaan akan tetapi melahirkan transformasi
unggul untuk menyesuaikan keadaan atau bahkan mematahkan keadaan.
Yang kedua dalam segi spiritual, Indonesia sudah tak asing lagi dengan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Bagaimana budaya tersebut bisa lahir dan sekarang sudah menjadi hal yang lumrah di bangsa ini. Tentu ini tentang keimanan atau keyakinan dalam hati para pelaku. Sifat rakus, serakah dan sombong serta takut miskin melahirkan para koruptor serta.mafia berdasi yang tega menghisap hasil bumi ibu pertiwi. Dasar dalam penyelesaian hal ini adalah dengan memperkuat keimanan dalam hati para birokrasi pemerintahan. Yang telah masuk dalam pemerintahan juga termasuk dalam bagian SDM. Akar masalah juga ditimbulkan oleh mereka mafia berdasi. Mereka yang sudah terarahkan oleh jalan setan akan selalu buta dalam melihat penindasan. Ketika birokrasi dalam pemerintahan unggul, maka segala persoalan tentang ekonomi, sosial , budaya, agama dan politik dapat terselesaikan dengan bijak tanpa adanya perpecahan.
Penulis : Rifki
Editor : Lita

0 Komentar