Membahas soal
cinta tentu tidak akan ada ujungnya, sebab banyak sekali perspektif dari para
pelaku cinta itu sendiri. Bagaimanapun, banyak perspektif dari pengalaman
pelaku cinta, akan ada titik temu dari berbagai pengalaman yang telah dibagikan
oleh para pelakunya, yaitu akan kembali pada sebuah pertanyaan apa itu cinta. Apa
yang dibagikan oleh penulis juga melihat dari berbagai pengalaman baik yang
dialami oleh penulis itu sendiri atau orang lain. Tentu pelaku adalah salah
satu referensi kuat dari sebuah tulisan.
Kembali pada
konteks cinta yang agaknya sekarang telah kurang tepat diartikan serta
diimplementasikan dalam kehidupan. Cintanya sesama manusia akan menimbulkan dua
perkara apakah itu hanya nafsu sesaat dan atau cinta yang memang tulus dari
jiwa yang telah menyatu menjadi kegilaan. Seseorang bisa gila karena cinta
seperti yang telah terabadikan dalam kisah Laila Majnun. Dalam kisah tersebut
tentu sahabat telah mengetahui bahwa si Majnun telah mencapai titik puncak pada
sebuah kata cinta, sehingga apapun rintangannya tidak akan menjadi masalah.
Cinta merupakan bagian
dari sejarah kisah yang tidak bisa dipisahkan antara adam dan hawa. Ketika Adam
merasa kesepian, maka hadirlah hawa yang diambil dari tulang rusuknya. Lahirlah
pasangan pertama dalam sejarah manusia dengan mahar tiga kali sholawat. Sayangnya
kebahagiaan mereka patah karena melanggar perjanjian yang telah dibuat dengan Tuhan
mereka. Mulailah mereka terusir dari wilayah surga dan menghidupi muka bumi. Selain
lahirnya cinta pertama, atas nama cinta pula telah ternodai akibat perseteruan Qabil
dan Habil yang merebutkan perempuan kesukaannya. Dari perseteruan tersebut,
terjadilah pembunuhan pertama pula di muka bumi. Maka, sejarah atas nama cinta
pula tak asing dengan percecokan yang tidak jarang melahirkan pertumpahan
darah.
Melihat dari
sudut pandang sejarah pula, cinta mengalami sebuah transformasi mulai dari
pemaknaan sampai pengimplementasiannya. Mulai dari surat menyurat sampai pesan
berbasiskan elektronik. Dari saling menjodohkan sampai pencarian biro jodoh
lewat acara televisi maupun aplikasi yang tersedia dalam play store. Perubahan
cara dalam melahirkan cinta sepanjang sejarah juga memberikan inovasi yang
lebih efektif serta efisien. Akan tetapi dari banyak perubahan dalam penyajian
cinta, apa yang dinamakan cinta tetaplah suatu rasa yang kosong tanpa adanya atribut
materi.
Membaca realita,
kesucian cinta berubah menjadi jalan untuk mencari keuntungan baik melalui
nafsu birahi sampai jaminan materi. Pada hakikatnya cinta yaitu tentang
kemanusiaan dimana antar pasangan memerlukan ketersalingan bukan keterpalingan.
Merujuk pada realita, pemaknaan dan praktik cinta pada diri manusia telah
banyak keluar dari jalur yang sesungguhnya, yaitu menyayangi tanpa pamrih dan
tentu tiada sakit hanya ada bahagia setiap harinya. Di dunia yang sudah serbah
canggih ini membuat manusia terbentuk menjadi seorang yang pragmatis. Begitu
juga dalam sebuah perjalanan cinta pada saat ini, banyak manusia enggan
memberikan serta menyayangi proses dalam meraih sebuah cinta. Berfikir pendek
dan mengagungkan hasrat yang telah didesain dengan rapi oleh setan. Timbullah
barisan sakit hati yang menyalahkan siapa yang menyakiti dan enggan untuk
mengalah siapa yang salah. Kedua belah pihak saling memendam benci dan tak
jarang dukun menjadi kunci.
Cara berfikir
pragmatis itu pula yang melahirkan judul dalam tulisan ini, tentang bagaimana
cinta sekarang bukan yang utuh dalam memahami rasa akan tetapi menjadi sebuah
kegiatan transaksi yang disitu memiliki sifat timbal balik. Adanya sifat timbal
balik pada cinta di zaman sekarang telah menodai apa itu ketulusan serta
keikhlasan dalam membangun cinta. Berharap memberikan umpan pada kail untuk
mendapat ikan akan tetapi mendapat kotoran sungai, maka yang akan terjadi rasa
menyesal jika tidak dilandasi dengan kesabaran serta ketulusan. Memberi dalam
sebuah cinta adalah atribut pelengkap dalam mengasihi bukan prioritas untuk
memperkuat hubungan. Keberlanjutan dari saling memberi melahirkan saling
memahami dan mengasihi bukan mendekte agar setiap saat harus memberi dan pada
akhirnya timbulah apa itu transaksi cinta.
Transaksi merupakan kegiatan jual dan beli antara penjual dan pembeli dalam menyepakati sebuah barang atau benda dan sejenisnya. Apa jadinya jika transaksi tersebut telah menjadi benalu dalam arti sebuah kata cinta. Tentu ini menjadi sebuah hal yang merusak apa hakikat dari kemanusiaan itu sendiri yaitu tentang kemanusiaan. Kedua belah pasangan memberi untuk diberi bukan atas dari hati yang saling menghasihi. Terlepas dari realita yang pada nyatanya manusia tetap membutuhkan materi, akan tetapi perlu ada pemahaman ulang terkait apa itu cinta. Dalam transaksi cinta ini seringkali terjadi ketimpangan yang jelas, yaitu salah satu pasangan menjadi donatur hubungan dan satunya akan dituntut untuk mempertahankan hubungan. Transaksi cinta menjadi sebuah pegangan salah satu pasangan, jika salah satu mengingkari maka apa yang telah diberi menjadi pijakan dalam mengadu serta menyelesaikan masalah. Maka disinilah ketulusan cinta pula telah hilang, dan cinta harus dilabeli dengan pemberian materi yang mengatasnamakan kasih sayang, akan tetapi hal tersebut akan menjadi senjata dalam setiap ada problem antar pasangan.
Penulis : Rifki
Editor : Lita

0 Komentar