Aku dan
kebenaran akan senantiasa beriringan menuju tempat persinggahan ternyaman,
yaitu kesejahteraan. Aku dan ketidaksesuaian adalah dua kubu yang tidak akan
pernah bersatu sampai Tuhan sendiri yang akan turun tangan mempersatukan kita. Lalu
sebenarnya siapa aku ?, yang orang lain menganggap aku bodoh dan tak tahu
menahu tentang arti realistisme. Lalu aku bersuara bahwasanya “Realistisme
adalah cara paling aman untuk berlindung dalam melakukan kezaliman. Realistisme
hanya mematikan percikan – percikan api yang sebenarnya pantas untuk dihidupkan
bukan untuk dibungkam dengan dalih kepentingan bersama.
Aku adalah
idealisme, musuh terberat bagi fikiran – fikiran yang telah tunduk pada kenyataan.
Bahwasanya sesuap nasi telah dijamin Tuhan dan manusia cukup memakai baju dogma
– dogma absurd. Maka, aku adalah lawan bagi manusia yang masih menanamkan mindset
racun itu. Aku diciptakan untuk memperjuangkan apa arti sebuah kebenaran
yang telah aku dapatkan dari firman Tuhan. Jika mereka menganggap aku kafir,
maka aku tetap membenarkan mereka, bahwasanya aku adalah orang yang keluar dari
jaringan lingkungan pengaagung surga tanpa ia sadar Tuhan tak pernah anggap ia
ada.
Kenyataan tidak
akan pernah mengerti aku, bahwasanya kenyataan – kenyataan itu telah membangun
sebuah opini tentang apa arti perjuangan yang dilakukan harus berdasarkan arah
dan tujuan yang terafiliasi dalam sebuah golongan. Melihat hal tersebut, aku
tetap berdiri tegak dengan kebebasan yang telah aku pelajari sebelum kenyataan
– kenyataan telah mengajak sedikit demi sedikit orang untuk bersatu dalam cengkeraman
ideologi. Cengkeraman yang tidak lain hanya sebuah tempat yang membuat orang
didalamnya tunduk dan buta akan perjuangan yang berlandaskan kebersamaan murni,
bukan kebersamaan karbitan.
Kebersamaan
dalam perjuangan tanpa mendikotomi pemikiran, dan anti mendiskriminasi orang
lain yang bukan bagian dari salah satu golongan. Aku kembali bersuara dan
mengecam mereka yang dengan gagah mengusir dan mengkebiri yang bukan dari
bagian mereka. Sudah terlanjur susah, jika fanatisme telah bersatu dengan
gumpalan darah mereka, nasehat mereka anggap hanya dari yang mereka anggap dari
satu bendera, nasehat yang datang dari luar adalah ancaman dan harus
dibinasakan. Sungguh muak dengan ideologi – ideologi basi, yang sebenarnya
mereka telah memisahkan dari keadilan dan menuju pada saling mengamankan
kepentingan. Ideologi dalam tatapanku hanyalah kendaraan politik paling canggih
untuk merusak persatuan manusia.
Sampai kapan pun
aku tetap memilih untuk berdiri bebas dengan lantang dan tegas menyuarakan
serta memperjuangkan keadilan. Pendirianku kokoh pada satu prinsip yaitu
berfikir dan bertindak radikal tanpa adanya keterikatan pihak manapun adalah
kenikmatan sendiri dalam hidup. Hari demi hari aku berjalan dan menyusuri
permasalahan dengan kesepian. Banyak dari mereka menganggap aku sebagai kancil
yang kehilangan arah. Tapi anggapan tersebut aku jadikan penyemangat dalam
memperjuangkan kebebasan berfikir dan bertindak tanpa adanya ikatan – ikatan ideologi.
Kebanyakan dari
mereka yang kutemui telah terjaring oleh pelaku doktrinasi ideologi basi.
Beberapa orang sempat menemuiku untuk bersua dalam ruang ideologi, mulai dari
arah kiri sampai arah kanan. Yang kutemui hanya bualan – bualan dan onderbow
dari salah satu partai politik yang ada di negeri ini. Tetap aku susuri
perjuangan dengan jalan sunyi dan lingkungan sekitar yang terus menghantui
dengan sindiran – sindiran serta tindakan yang tidak memanusiakan.
Setelah dengan
lelah aku menatap kesendirian, aku tak sengaja melihat ruang – ruang idealisme
yang melahirkan realistisme. Ku ajak bercengkerama ruang tersebut dengan bekal kebebasanku
yang masih kental dan aku sendiri yakin tidak akan ada yang bisa merobohkan
menara kebebasan yang telah kubangun sebelum masuk dalam perguruan tinggi ini. Ternyata
benar, mereka tetap kalah dengan argumen yang aku bawa dengan tegas, bahwa
mereka tetaplah kacung – kacung ideologi yang tiada arti. Namun tak seperti
ruang kiri dan kanan yang kutemui, dengan kemenanganku mereka tetap merangkul
hangat dan senang dengan buah pemikiran yang aku buktikan. Dalam hal ini aku
telah diputar balikan oleh fakta ideologi yang aku bawa. Mereka menerimaku
dengan senang hati, dan tak jarang kita berdebat dalam ruang dialektika sampai
larut malam sehingga aku cenderung atheis untuk saat ini.
Dalam ruangan
itu, aku tetap menaruh curiga pada sekumpulan orang – orang yang telah termakan
doktrin ideologi. Walau nyatanya mereka menganggap diriku sahabat tanpa sekat,
namun aku tetap menganggap mereka sebagai orang – orang yang tersesat. Namun
aku sendiri belum mengidentifikasi, mereka yang sekarang membersamaiku dalam
ruang dan waktu apakah mereka penganut ideologi jalur kiri atau kanan. Begitu
luwes dan toleran mereka bisa menerima orang sekeras aku ini. Aku temukan
kenyamanan dan diriku dalam ruangan ini, sehingga pada tiba waktunya aku
mencoba memberanikan diri untuk mengikuti forum – forum mereka. Salah satu yang
menjadi pengorbananku adalah mengikuti serangkaian penerimaan bagian dari mereka.
Anggap saja ini sebagai metodeku untuk menyadarkan orang – orang yang tersesat
setelah dan sebelum aku.
Hari demi hari malah yang aku temui adalah ruang kebebasan dalam forum ini. Tapi apapun nanti yang akan terjadi aku akan tetap menolak model sumpah sumpah atau pengambilan suara untuk jadi kacung mereka. Pada ruang tertentu aku dihadapkan pada beberapa pemikir yang nampaknya sudah tak asing lagi dengan cara berfikirku ini. Aku mencoba memberikan serangkaian kebebasan khas yang aku pelajari. Dengan tenang mereka merobohkan serangkaian kebebasanku dalam satu kalimat “Dengan bekal kebebasanmu itu, lalu kamu ingin memperjuangkan keadilan sedangkan dikau tak punya sahabat atau bahkan pasukan untuk merobohkan kezaliman – kezaliman yang berserakan di negeri ini, mau apa kau selanjutnya wahai pejuang kesepian?”, aku terpaku dan diam sejenak. Sambung mereka “Silahkan kalau kau memang pejuang keadilan dan kebebasan, pergi ke lapangan ambil sumpah itu, jika kau tidak siap berarti sama saja kau berkhianat pada basis pemikiranmu sendiri”. Seketika aku bangkit dengan penuh keyakinan bahwa aku adalah kebebasan yang akan siap berjuang di tempat ini.
Karya : Rifki

0 Komentar