Antara Idealisme dan Ideologi - Bagian 1




Aku dan kebenaran akan senantiasa beriringan menuju tempat persinggahan ternyaman, yaitu kesejahteraan. Aku dan ketidaksesuaian adalah dua kubu yang tidak akan pernah bersatu sampai Tuhan sendiri yang akan turun tangan mempersatukan kita. Lalu sebenarnya siapa aku ?, yang orang lain menganggap aku bodoh dan tak tahu menahu tentang arti realistisme. Lalu aku bersuara bahwasanya “Realistisme adalah cara paling aman untuk berlindung dalam melakukan kezaliman. Realistisme hanya mematikan percikan – percikan api yang sebenarnya pantas untuk dihidupkan bukan untuk dibungkam dengan dalih kepentingan bersama.

Aku adalah idealisme, musuh terberat bagi fikiran – fikiran yang telah tunduk pada kenyataan. Bahwasanya sesuap nasi telah dijamin Tuhan dan manusia cukup memakai baju dogma – dogma absurd. Maka, aku adalah lawan bagi manusia yang masih menanamkan mindset racun itu. Aku diciptakan untuk memperjuangkan apa arti sebuah kebenaran yang telah aku dapatkan dari firman Tuhan. Jika mereka menganggap aku kafir, maka aku tetap membenarkan mereka, bahwasanya aku adalah orang yang keluar dari jaringan lingkungan pengaagung surga tanpa ia sadar Tuhan tak pernah anggap ia ada.

Kenyataan tidak akan pernah mengerti aku, bahwasanya kenyataan – kenyataan itu telah membangun sebuah opini tentang apa arti perjuangan yang dilakukan harus berdasarkan arah dan tujuan yang terafiliasi dalam sebuah golongan. Melihat hal tersebut, aku tetap berdiri tegak dengan kebebasan yang telah aku pelajari sebelum kenyataan – kenyataan telah mengajak sedikit demi sedikit orang untuk bersatu dalam cengkeraman ideologi. Cengkeraman yang tidak lain hanya sebuah tempat yang membuat orang didalamnya tunduk dan buta akan perjuangan yang berlandaskan kebersamaan murni, bukan kebersamaan karbitan.

Kebersamaan dalam perjuangan tanpa mendikotomi pemikiran, dan anti mendiskriminasi orang lain yang bukan bagian dari salah satu golongan. Aku kembali bersuara dan mengecam mereka yang dengan gagah mengusir dan mengkebiri yang bukan dari bagian mereka. Sudah terlanjur susah, jika fanatisme telah bersatu dengan gumpalan darah mereka, nasehat mereka anggap hanya dari yang mereka anggap dari satu bendera, nasehat yang datang dari luar adalah ancaman dan harus dibinasakan. Sungguh muak dengan ideologi – ideologi basi, yang sebenarnya mereka telah memisahkan dari keadilan dan menuju pada saling mengamankan kepentingan. Ideologi dalam tatapanku hanyalah kendaraan politik paling canggih untuk merusak persatuan manusia.

Sampai kapan pun aku tetap memilih untuk berdiri bebas dengan lantang dan tegas menyuarakan serta memperjuangkan keadilan. Pendirianku kokoh pada satu prinsip yaitu berfikir dan bertindak radikal tanpa adanya keterikatan pihak manapun adalah kenikmatan sendiri dalam hidup. Hari demi hari aku berjalan dan menyusuri permasalahan dengan kesepian. Banyak dari mereka menganggap aku sebagai kancil yang kehilangan arah. Tapi anggapan tersebut aku jadikan penyemangat dalam memperjuangkan kebebasan berfikir dan bertindak tanpa adanya ikatan – ikatan ideologi.

Kebanyakan dari mereka yang kutemui telah terjaring oleh pelaku doktrinasi ideologi basi. Beberapa orang sempat menemuiku untuk bersua dalam ruang ideologi, mulai dari arah kiri sampai arah kanan. Yang kutemui hanya bualan – bualan dan onderbow dari salah satu partai politik yang ada di negeri ini. Tetap aku susuri perjuangan dengan jalan sunyi dan lingkungan sekitar yang terus menghantui dengan sindiran – sindiran serta tindakan yang tidak memanusiakan.

Setelah dengan lelah aku menatap kesendirian, aku tak sengaja melihat ruang – ruang idealisme yang melahirkan realistisme. Ku ajak bercengkerama ruang tersebut dengan bekal kebebasanku yang masih kental dan aku sendiri yakin tidak akan ada yang bisa merobohkan menara kebebasan yang telah kubangun sebelum masuk dalam perguruan tinggi ini. Ternyata benar, mereka tetap kalah dengan argumen yang aku bawa dengan tegas, bahwa mereka tetaplah kacung – kacung ideologi yang tiada arti. Namun tak seperti ruang kiri dan kanan yang kutemui, dengan kemenanganku mereka tetap merangkul hangat dan senang dengan buah pemikiran yang aku buktikan. Dalam hal ini aku telah diputar balikan oleh fakta ideologi yang aku bawa. Mereka menerimaku dengan senang hati, dan tak jarang kita berdebat dalam ruang dialektika sampai larut malam sehingga aku cenderung atheis untuk saat ini.

Dalam ruangan itu, aku tetap menaruh curiga pada sekumpulan orang – orang yang telah termakan doktrin ideologi. Walau nyatanya mereka menganggap diriku sahabat tanpa sekat, namun aku tetap menganggap mereka sebagai orang – orang yang tersesat. Namun aku sendiri belum mengidentifikasi, mereka yang sekarang membersamaiku dalam ruang dan waktu apakah mereka penganut ideologi jalur kiri atau kanan. Begitu luwes dan toleran mereka bisa menerima orang sekeras aku ini. Aku temukan kenyamanan dan diriku dalam ruangan ini, sehingga pada tiba waktunya aku mencoba memberanikan diri untuk mengikuti forum – forum mereka. Salah satu yang menjadi pengorbananku adalah mengikuti serangkaian penerimaan bagian dari mereka. Anggap saja ini sebagai metodeku untuk menyadarkan orang – orang yang tersesat setelah dan sebelum aku.

Hari demi hari malah yang aku temui adalah ruang kebebasan dalam forum ini. Tapi apapun nanti yang akan terjadi aku akan tetap menolak model sumpah sumpah atau pengambilan suara untuk jadi kacung mereka. Pada ruang tertentu aku dihadapkan pada beberapa pemikir yang nampaknya sudah tak asing lagi dengan cara berfikirku ini. Aku mencoba memberikan serangkaian kebebasan khas yang aku pelajari. Dengan tenang mereka merobohkan serangkaian kebebasanku dalam satu kalimat “Dengan bekal kebebasanmu itu, lalu kamu ingin memperjuangkan keadilan sedangkan dikau tak punya sahabat atau bahkan pasukan untuk merobohkan kezaliman – kezaliman yang berserakan di negeri ini, mau apa kau selanjutnya wahai pejuang kesepian?”, aku terpaku dan diam sejenak. Sambung mereka “Silahkan kalau kau memang pejuang keadilan dan kebebasan, pergi ke lapangan ambil sumpah itu, jika kau tidak siap berarti sama saja kau berkhianat pada basis pemikiranmu sendiri”. Seketika aku bangkit dengan penuh keyakinan bahwa aku adalah kebebasan yang akan siap berjuang di tempat ini.

Karya : Rifki

0 Komentar

FAQ

Bat PMII itu apa sih ?

PMII merupakan organisasi gerakan dan kaderisasi yang berlandaskan Islam Ahlussunah Wal Jamaah. Berdiri sejak tanggal 17 April 1960 di Surabaya dan hingga lebih dari setengah abad kini PMII terus eksis untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Mengapa harus menjadi anggota PMII bat ?

Karena di PMII kalian akan memperoleh doktrin ke-Islaman sekaligus doktrin keIndonesiaan. Hal ini akan membuat kalian menjadi sosok yang ideal; menjadi pribadi yang Religius sekaligus pribadi yang Nasionalis. Anggota PMII berada pada posisi yang Moderat. Tidak ekstrim kanan juga tidak ekstrim kiri, tapi moderat. Pribadi moderat adalah ideal untuk realitas sosial yang plural.

Kalau gabung di PMII gimana caranya bat ?

Semua mahasiswa/i yang beragama Islam bisa menjadi anggota PMII dengan cara mengikuti MAPABA. MAPABA Merupakan akronim dari Masa Penerimaan Anggota Baru, kaderisasi formal pertama di PMII