Dering telfon diruang utama itu
menggelegar, menggetarkan gendang telinga Wanita paruhbaya yang masih asik
menguleni adonan didapur. Ia segera merapatkan telinganya pada gagang telfon,
masih dengan terkaan suara siapa yang berada disebrang sana.
“Wa’alaikumsalam nduk.” Suara rentanya
merdu sekali terdengar. Ada rasa bahagia disana. Suara disebrang telefon itu,
suara yang telah lama ia nantikan.
“Bu, aku pulang sore nanti. Aku rindu
Wanita paruhbaya ini tersenyum penuh
makna. Sebuah mutiara bening tak bisa ia sembunyikan lagi, itu luapan
bahagianya. tak selang lama, termin pembicaraan siang itu ditutup. Masih dengan
ulasan senyum yang tak kunjung hilang dari wajah keriputnya, ia kembali
meneruskan adonan yang masih setengah jadi.
Ϧ
Kumandang adzan dhuhur menggetarkan
siang, menggelegar ke seluruh penjuru. Mengisi ruang-ruang hampa diudara,
menggetarkan gendang telinga, menggerakkan hati atas panggilan-Nya. Wahai
seluruh umat, mendekatlah. Sang empunya dunia sudah memanggil, tak butuhkah
engkau atas pertolongan dan ketengangan yang Dia tawarkan? Raihlah Sulukmu, wahai seluruh umat.
Nakia memantapkan kakinya menuju masjid
yang tak jauh dari tempat duduk. Masih dengan seulas senyum yang tak hilang
sejak tadi. angin menyapu wajahnya yang berbinar, mengibarkan kain abu-abu yang
menyelimuti kepalanya. Perempuan itu segera memasuki majid dan membasuh wajah
dengan air suci. Tunailah kewajibannya pada Sang Empunya dunia.
Setelah empat rokaat ia tunaikan,
perempuan berkacamata itu menepi, duduk disudut masjid. Ia kembali melafalkan
Kalam-Kalam Allah dengan merdu.
Ϧ
“Ibu tak sampai hati jika kamu tak bisa
mengaji seperti ibu, ikutlah dengan Pakdhemu. Jangan khawatirkan ibu, ibu akan
baik disini. Yang penting, disana kamu harus pandai, kamu harus membuat ibu
bangga.”
Bukan lagi setetes dua tetes, ini bak
sungai yang mengalir deras diwajah kedua perempuan ini. Nakia masih erat
memeluk ibunya. Sementara sang ibu memberikan pengertian lebih. Semilir angin
dan nyanyian ilalang sore itu mengiringi kepergian Nakia.
“Jangan nangis, nanti air matamu kau
telan. Batal sudah puasamu. Sudah, berhentilah menangis. Anak ibu ini, katanya
kuat. Pakdhemu sudah menunggu nak.”
Itu baru minggu pertama Ramadhan, ketika
Nakia meninggalkan ibu dan rumah mungilnya. Nakia memeluk sebuah Iqro’ yang
dibelikan Ibu baru-baru kemarin. Padahal ia sudah hampir 15 tahun, tapi ia
masih belum lancar mengaji. Nakia putus sekolah, ia hanya tamat SD dan membantu
ibunya berjualan Gorengan keliling kampung. Mereka hanya berdua, dan setelah
Ibu menitipkan Nakia Pada Pakdhe Adim, ibu sendirian. Menguleni adonan tepung
tempe dan tahu gorengnya sendiri. sahur sendiri, buka puasa sendiri, dan
lebaranpun Ibu sendiri. ibu tak mengizinkan Nakia pulang. Katanya, supaya Nakia
fokus mengaji dan menuntut ilmu disana.
Ibu ingin yang terbaik untuk putri
semata wayangnya.
“Jangan sampai Nakia seperti Ibu. Ibu
tak bisa mengaji, ibu buta huruf hijaiyah. Nakia harus pandai.”
Ibu mana yang tega melihat anaknya
menjadi bodoh. Tak ada, semua ibu ingin anaknya menjadi pandai, dan lebih
pandai dari dirinya.
Ϧ
Perempuan paruhbaya ini memutuskan untuk
tak berjualan keliling kampung. Ia masih sibuk memasak, padahal sebentar lagi
sudah hampir adzan maghrib. Ia mempersiapkan meja makan dengan banyak sekali makanan.
Tempe goreng dan tahu goreng kesukaan anaknya. Perkedel dan sayur asem. Jangan
lupakan sambelnya, meskipun ia tau anaknya tak suka pedas, ia selalu
menyediakan sambal.
Senyumnya mengulas kembali, wanita
paruhbaya ini bahagia sekali, seperti tertimpa rejeki nomplok.
“Assalamualaikum,” suara merdu itu
menggetarkan hati wanita paruhbaya yang masih berdiri merapihi meja makan.
Setetes mutiara jatuh dari binar matanya yang indah. senyumnya mengulas lebih
lebar. Ia bahagia, sangat bahagia.
“Itukah kamu, nak?”
“Ibu, ini Nakia.” Sang empunya suara
berlari memeluk wanita paruhbaya yang masih berdiri mematung. Tumpah ruahlah
bahagianya saat itu. lama sekali, Nakia enggan melepas pelukannya. Tangisnya
pecah, luruh bersama rasa rindu yang ia pendam sejak lama.
“Hei, jangan menangis. Nanti air matamu
kau telan. Batallah puasamu. Sudah-sudah, berhentilah menangis. Kau ini masih
seperti Nakia yang dulu yah.”
“Ibu ini, aku masih rindu. Lagi pula
mana mungkin kutelan air mataku. ibu kira aku masih Nakia kecil?” gelegar tawa
memecah diantara mereka. Ditarik dua kursi yang berdampingan, senyum tak pernah
hilang dari kedua wajah yang bahagia itu.
Tak selang lama, kumandang adzan maghrib
menggelegar indah. mengiringi sang raja siang menuruni tahtanya digantikan sang
dewi penghias malam. Ditemani semburat merah kejinggaan diufuk barat.
Orang-orang sepenjuru dunia menghilangkan dahaganya kala itu, menelan teguk
demi teguk air dan satu persatu pengganjal perut setelah seharian berpuasa.
Tiga rokaat mereka tunaikan bersama, diakhiri
dengan lantunan Kalam-kalam Allah yang dengan merdu dilafalkan oleh Nakia.
Mutiara-mutiara bening tak henti mengalir deras dari wajah wanita paruhbaya
ini.
“Anakku sudah pandai mengaji.”
Nakia memeluk ibunya lagi, kali ini
lebih erat. seperti pelunas hutang akan rindunya yang kedua. Itu Ramadhan
pertama setelah dua Ramadhan terakhir ia habiskan sendiri. Itu ramadhan yang
indah, yang telah ibunya perjuangkan, agar Nakia bisa melafalkan Kalam-Kalam
Sang Empunya dunia dengan baik.
Tak ada yang lebih bahagia menurut
seorang ibu, kecuali bahagia melihat anaknya mampu lebih dekat dengan Tuhannya.
Ϧ Ϧ Ϧ
AF
Pemalang, 10 Mei 2018
FRC 2018, Universitas
Negri Yogyakarta

0 Komentar